profil

22 Juli 2011

Taman DIATAP GEDUNG SEBAGAI ALTERNATIF MENGURANGI GLOBAL WARMING

Meskipun semua tanaman hidup mampu menyerap CO2 selama proses fotosintesis, proses yang terjadi pada pepohonan lebih signifikan dari pada tanaman kecil, karena kelebihan pada pepohonan adalah berukuran besar dan struktur akar yang meluas. Pada dasarnya pohon sebagai raja dari tanaman di dunia lebih memiliki “woody biomass” untuk menyimpan CO2 dibandingkan dengan tanaman yang kecil. Menurut Departemen Energi Amerika (DOE), species pohon yang tumbuh dengan cepat dan hidup lama ideal untuk carbon sinks. Dengan mempertimbangkan teknik penanaman seperti yang telah saya uraikan diatas berikut ini jenis tanaman yang dapat di kembangkan :
1. Teknik Penanaman Langsung Teknik ini merupakan yang terbaik (menurut saya) untuk mengurangi pemanasan global karena dengan teknik ini pohon besar pun dapat ditanam di puncak gedung asalkan konstruksi gedung mampu menahannya. Bahkan kita dapat membuat hutan buatan diatap gedung. Karena pada prinsipnya pepohonan yang terbaik untuk mengurangi pemanasan global. Tanaman yang dipilih bisa berupa pohon, buah-buahan, sayuran, maupun rumput-rumputan
2. Teknik Container Gardening Teknik ini lebih mudah digunakan karena tinggal menata kontainer ke atap gedung. Meskipun tanaman yang bisa ditanam diatasnya hanya tanaman kecil dan pohon kecil misalnya tanaman buah dan sayur, tanaman obat, rimpang, dan jenis rumput-rumputan.
3. Kombinasi Container Gardening dengan Pilar Gardening Teknik ini lebih membutuhkan biaya karena harus membangun tiang-tiang penyangga serta membuat tempat perambatan tanaman. Tanaman yang dapat dipilih tentu saja tanaman yang merambat dan tahan panas. Sementara tanaman pada kontainer dibawahnya lebih bisa dipilih tanaman yang tidak terlalu tahan panas
.
4. Teknik Hidroponik Ini merupakan pilihan terakhir karena tanaman yang dipilih hanya tanaman kecil yang tidak terlalu menghisap CO2 dan media air sangat mudah menguap bila diletakkan ditempat sepanas atap gedung. Teknik ini bisa digunakan pada gedung yang tidak terlalu tinggi dan dibuat rumah tanaman diatas gedung. Tanaman disini hanya terbatas pada jenis tanaman yang suka air.
Semoga tulisan ini menginspirasi developer dan pengelola gedung untuk menghijaukan kembali bumi ini.

Eco Tech: Omega hidroponik Garden menghemat energi dan air

eco factor: Tabungan hidroponik indoor sistem tanam-energi. Kebun hidroponik dalam ruangan yang besar bagi mereka yang ingin sentuhan hijau di rumah mereka tanpa menambah kekacauan dengan tanah. Namun, kebun hidroponik dalam ruangan paling tidak yang baik bila dibandingkan dengan jumlah energi dan air yang mereka gunakan. mega garden sistem itu berbeda - sistem hidroponik taman yang menghemat energi dan air. Sistem dijuluki katrol berputar tanaman di sekitar bohlam dan para pengembang mengklaim bahwa itu menghasilkan tiga sampai lima kali berat tanaman per watt listrik yang digunakan, dibandingkan dengan sistem konvensional tidur datar.
versi dari sistem komersial menghasilkan sebanyak 1.500 persegi, sedangkan rumah kaca hanya 150 meter persegi, dan ketika digunakan dengan bohlam led, sistem hanya 0.38kwh mengkonsumsi listrik untuk satu pon kemangi. Selain menghemat listrik, sistem juga mengurangi konsumsi air sebanyak 99% dan menghilangkan limpasan. sumber

05 Februari 2011

Salak Pondoh

Tanaman salak pondoh termasuk dalam kelompok tanaman Palmae yang tumbuh berumpun dan umumnya tumbuh berkelompok. Banyak varietas salak yang bisa tumbuh di Indonesia. Ada yang masih muda sudah terasa manis, Varietas unggul yang telah dilepas oleh pemerintah untuk dikembangkan ialah: salak pondoh, swaru, nglumut, enrekang, gula batu (Bali), dan lain-lain. Sebenarnya jenis salak yang ada di Indonesia ada 3 perbedaan yang menyolok, yakni: salak Jawa Salacca zalacca (Gaertner) Voss yang berbiji 2-3 butir, salak Bali Slacca amboinensis (Becc) Mogea yang berbiji 1- 2 butir, dan salak Padang Sidempuan Salacca sumatrana (Becc) yang berdaging merah. Jenis salak itu mempunyai nilai komersial yang tinggi. Klasifikasi dari buah salak dapat dilihat berikut (Widji Anarsis, 1996) :

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Bangsa : Palmales

Suku : Palmae

Marga : Salacca

Jenis : Salacca edulis Reinw.

Tanaman salak termasuk suku pinang-pinangan, ordo Spadiceflorae, famili Palmaceae dengan beberapa spesies Salacca conferta, Salacca adulis, Salacca affinis, Salacca globoscans, dan Salacca wulliciana (Sudibyo, 1974). Menurut Suter (1988), panjang buah salak berkisar antara 4,46-6,13 cm, diameter 4,28-5,67 cm, dan berat buah berkisar antara 34,79-83,47 g. Variasi panjang, diameter, dan berat buah salak dipengaruhi oleh kultivar serta letak buah salak pada tandannya.

Tanaman salak pondoh merupakan tanaman berumah dua, sehingga dapat diketemukan tanaman jantan dan tanaman betina. Bunga jantan tersusun seperti genteng, bertangkai dan berwarna coklat kemerah-merahan. Sedangkan bunga betina tersusun dari 1-3 bulir, bertangkai panjang dan mekar sekitar 1-3 hari. Perakaran salak pondoh terdiri dari akar serabut, yang sebagian besar berada di dalam tanah dan sebagian lagi muncul dipermukaan tanah. Perkembangan akar salak pondoh dipengaruhi oleh cara pengolahan tanah, pemupukan, tekstur tanah, sifat fisik dan kimia tanah, air tanah, lapisan bawah tanah, dan lain-lain. Sedangkan batang salak pondoh termasuk pendek dan hampir tidak kelihatan secara jelas, karena selain ruas-ruasnya padat juga tertutup oleh pelepah daun yang tumbuhnya memanjang (Hieronymus Budi Santoso, 1990).

Kriteria buah yang sudah siap dipanan dapat ditentukan melalui umur buah atau dengan memperhatikan penampakan buah. Umur panan buah salak pondoh adalah sekitar 5,5-6 bulan, sedangkan bila melihat dari penampakan buahnya, salak pondoh yang siap dipanen memiliki warna kulit buah bersih dan mengilap, bila dipegang terasa empuk dan kulitnya tidak keras serta beraroma khas (Widji Anarsis, 1996).

Buah salak terdiri dari tiga bagian, yaitu kulit buah, daging buah yang diselubungi selaput tipis dan biji. Setiap buah salak pondoh memiliki satu biji, berwarna coklat kehitam-hitaman, keras, dan pada biji terdapat sisi cembung dan sisi datar (Hieronymus Budi Santoso, 1990).

Buah salak pondoh muda rasanya manis dan ggurih, sedangkan buah salak pondoh tua rasanya manis, gurih, dan masir. Ketebalan daging buahnya antara 0,8 cm sampai 1,5 cm, dan warna daging buahnya putih kapur (Rahmat Rukmana, 1999).

Salak (Salacca edullis, REINW) merupakan tanaman asli Indonesia, termasuk ordo Spadiciflorde, family Palmae (Pinag-pinangan) (Santoso, 1990). Tanaman salak termasuk tanaman yang tidak berbatang sejati, berumah dua, berakar serabut, berbatang keras tetapi tidak mudah rebah. Tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian antara 0-700 meter diatas permukaan laut pada tanah yang subur dan gembur (Osche, dkk., 1961).

Tanaman salak berakar serabut menjalar mendatar di bawah permukaan tanah, dalam penyebarannya tidak luas, dangkal dan mudah rusak jika terkena air yan gberlebihan. Di tanah yang tergenang air, akar tanaman salak akan sulit berhapus dan lama-kelamaan akan membusuk. Batang tanaman pendek dan hamper tidak kelihatan karena selain ruasnya padat juga tertutup oleh pelepah yang tersusun rapat. Daun salak tersusun roset berbentuk pedang, pangkal daun menyempit dan cembung pada bagian dibawah dan tepi daun berduri tajam (Anonim, 1992).

Tahap pengembangan buah meliputi periode pendek pembelahan sel, periode panjang pembesaran sel, diikutidengan penuaan sel (maturity), selanjutnya adalah periode pemasakan (rippening) , dan akhirnya periode sanesence. Buah salak yang telah tua ditandai dengan sifat-sifat umum, seperti bentuk sisik semakin melebar, berkilat dan mudah dikupas, warna daging buah tidak pucat dengan biji yan gkeras berwarna coklat tua. Buah salak yang sudah tua ketika di pohon ditandai dengan tandan yang merunduk dan jika tandan digrak-gerakkan ada1-2 bauh salak yang jatuh maka keadaan ini menunjukkan bahwa buah salak siap dipanen (Anggrahini dan Suwedo, 1987).

Di Indonesia terdapat beragam jenis salak yang umumnya dikenal nama masing-masing daerah tempat salak tersebut ditanam, seperti salak bali, pondoh, condet, Padang Sinempuan, Manonjaya, Madura, Ambaraw, Kersikan, Swaru, dan lain-lain. Diantara berbagai jenis salak tersebut, yang memiliki prospek dan nilai komersial paling tinggi adalah salak podoh dan salak bali (Surachmat Kusumo, dkk. 1995).

Mengenai nama salak pondoh Budi Santoso (1990), memiliki pendapat berbeda, menurutnya meskipun salak pondoh tersebut belum jelas siapakah yang pertama kali memberikan nama tersebut, namun kata “pondoh” itu sendiri berarti bunga kelapa yang kalau dicicipi rasanya manis.

Buah salak pondoh yang ada di Kabupaten Sleman, daerah Istimewa Yogyakarta ada tiga jenis, yaitu Pondoh Hitam, Pondoh Super, dan Pondoh Manggala yang memiliki kulit bersisik yang tersusun rapi seperti genteng dan berduri halus serta biji berwarna coklat kehitaman. Warna kulit maupun warna daging buah dari ketiga jenis salak pondoh tersebut berbeda-beda, Salak Pondoh Hitam memiliki warna kulit buah hitam kelam dan aging buah berwarna putih susu, kulit buah Salak Pondoh Super berwarna coklat kekuningan dan daging buahnya berwarna coklat kekuningan, serta Salak Pondoh Manggala memiliki kulit buah berwarna coklat kekuningan dan sisik pada bagian pangkal kulit buah tersusun membentuk lorek (ada warna putih diantara sisik) serat daging buahnya berwarna putih susu (Djafaar, dkk., 1998).

01 Februari 2011

Alsintan

pada postingan ini terdapat beberapa laporan mengenai praktikum mektan.
uraian beberapa alsintan berikut fungsinya serta semua kegiatan praktikum trsebut disajikan dalam sebuah laporan. untuk membantu teman-teman sekaligus sebagai arsip pribadi, maka laporan tersebut saya postingkan di blog ini.
untuk men-download "contoh" laporan trsebut, silahkan klik disini

semoga bermanfaat buat teman-teman